Feeds:
Posts
Comments

CV BIOGRAPHY WEDHA POP ART POTRAIT


Salah satu pencapaian perupa adalah, ketika dirinya telah menemukan “jati dirinya” atau biasa dikenal telah memiliki gaya. Pun demikian dengan perupa bernama Wedha Abdul Rasyid yang akrab dipanggil Wedha ini. Setelah berkutat puluhan tahun mendalami gaya pop art, sebuah gaya yang pernah dikobarkan oleh pelukis Amerika Andy Wahroll, kini Wedha bahkan berani memproklamirkan gayanya sebagai Wedha’s Pop Art. Karya-karya Wedha kebanyakan adalah lukisan tentang wajah. Menurutnya, wajah manusia tidak harus dipotret atau dilukis dengan warna manusiawi pula. Dia bisa dicorat-coret dengan berbagai garis dan warna-warni lugas dan tegas. Itu yang dilakukan Wedha Abdul Rasyid, yang sejak tahun 80-an hingga kini menjadi ilustrator Majalah Hai. Seniman yang melahirkan figur Lupus dan Ninol itu, mencba memotret wajah banyak tokoh nasional maupun internasional dengan gidang-bidang tegas dan warna yang jelas atau lugu. Namun, hasilnya justru melahirkan nuansa dan rasa baru. Profil tokoh yang dia bidik tetaplah kentara. Misalnya, Michael Jackson, Soekarno, Che Guevara, sampai Osama bin Laden, tetap mudah dikenal. Orang yang mengenal mereka tak harus bertanya lagi siapa mereka, sebab identitas wajah mereka langsung tertangkap. Padahal, dia menampilkannya dalam lukisan yang bergaris-garis atau terkotak-kotak, dengan warna yang tegas. “Saya tak tahu apakah sudah ada yang pernah memakai teknik ini. Yang pasti, saya menemukan teknik ini melalui berbagai percobaan dan pemikiran,” jelasnya, ketika bertemu dengan. Menurut Wedha, dia kini sedang memproduksi sekitar 40 lukisan tokoh-tokoh nasional dan internasional dalam kanvas dengan cat akrilik. Rencananya, lukisan dengan ukuran 80 x 120 Cm (portrait) sampai 320 x 200 Cm (Landscape) itu akan dipamerkan tahun ini. “Saya merencanakan memamerkan karya-karya saya itu di Bentara Budaya Jakarta. Ada pula rencana memamerkannya di tempat lain dan waktu yang berbeda. Sekarang saya akan menyelesaikan dulu 40 lukisan. Sementara yang sudah jadi sekitar 75 persen” . Semula, aku Wedha, dia membuat gaya dan cara menggambar wajah orang dengan kotak-kotak atau dia namakan Foto Marak Berkotak. Karya-karya itu sempat mendapat sambutan luas dari pembaca Hai. Namun, dia merasa bosan sendiri, kemudian mencari cara dan gaya lain. Dia sempat melakukan deformasi wajah para tokoh. Sayangnya, sering kali ada keluhan orang tidak mengenal siapa tokoh yang dia gambar. Sehingga, dia terus mencari gaya dan cara baru, sampai akhirnya dia merasa puas dengan cara dan gaya yang dia sebut Wedha’s Pop Art. “Itu sebuah cara tracing foto, kemudian saya sentuh dengan cara pemberian warna dan garis-garis yang tegas di wajahnya. Pemikiran dan percobaannya saya lakukan cukup lama”.

 

HASIL WAWANCARA DENGAN WEDHA ABDUL RASYID

 

1. Roy Febrianto

   “Bagaimana pemahaman arti ide menurut Bapak ?”

    Wedha Abdul Rasyid

    Jawab :

    “Ide itu terbagi atas dua diantaranya adalah bisa digali dan bisa muncul secara tiba-tiba. Bisa digali disini maksudnya adalah ide tersebut muncul dari proses suatu pembelajaran. Proses penggalian ide tersebut bisa muncul dari kehidupan keseharian kita. Sedangkan ide muncul secara tiba-tiba  membutuhkan suatu pemicu yakni suatu dorongan untuk menggerakkan suatu ide yang ada di dalam pikiran kita. Pada dasarnya, ide tak akan tercipta apabila ide itu tidak kita keluarkan.”

2. Roy Febrianto

    “Bagaimana pemahaman arti konsep menurut Bapak ?”

    Wedha Abdul Rasyid

    Jawab :

     “Konsep itu diperlukan untuk sebuah karya, karena konsep merupakan bagian dari sebuah karya. Konsep bisa dipahami oleh orang lain, apabila konsep tersebut dituangkan ke dalam suatu buku maupun menggunakan alat perekam yang nantinya bisa dipahami oleh orang banyak. Pada intinya konsep sudah tidak diperlukan untuk sebuah karya, dikalau karya kita sudah komunikatif di mata orang banyak.”

3. Roy Febrianto

  “Bagaimana cara atau strategi Bapak untuk mewujudkan ide dan konsep disetiap dalam karya-

   karya Bapak ?”

   Wedha Abdul Rasyid

    Jawab :

     “Cara mewujudkannya adalah kita lakukan “to do action” yaitu berupa tindakan yang benar-benar nyata dilakukan. Dengan terkumpulnya berbagai ide yang ada di dalam otak, maka ide tersebut dapat dituangkan ke dalam suatu karya yang berharga. Sedangkan strategi konsep tinggal bagaimana cara kita menempatkan karya itu sendiri di mata masyarakat, otomatis konsep yang dilakukan dapat tersalurkan. Penyebarluasan konsep tersebut dapat dilakukan melalui WEB, Face Book, Twitter, dan berupa pameran. Hal itu cukup efektif untuk mewujudkan strategi konsep dalam karya saya.”

4. Roy Febrianto

    “Bagaimanakah ukuran suatu ide dan konsep dianggap bernilai baik, dilihat dari idealisme dan bisnis ?”

    Wedha Abdul Rasyid

    Jawab :

“Pertama kedua-duanya, idealisme bisa bernilai baik apabila sudah diterima di masyarakat. Indikatornya adalah sebuah kritikan yang berasal dari masyarakat. Sedangkan bisnis menjual sebuah karya apabila sudah layak diterima oleh masyarakat. Setelah melakukan bisnis tersebut lalu tingkatkanlah lagi menjadi seorang pedagang. Jadi kesimpulannya bukan adanya lagi seni adalah seni tetapi seni adalah untuk kesejahteraan orang banyak.”

 5. Roy Febrianto

     “Bagaimana pendapat Bapak tentang dunia ide dalam industri kreatif (Dunia penciptaan) di Indonesia ?”

     Wedha Abdul Rasyid

     Jawab :

    “Menurut saya perkembangan ide dalam dunia industri kreatif di Indonesia akhir-akhir ini sedang berada di tahap pertumbuhan dan berkembang serta lagi trend membuming-bumingnya. Berbeda dimana pada waktu itu industri kreatif di indonesia masih terbilang baru dan untuk peningkatannya kurang, dibandingkan pada masa era saat ini. Penggerakkan idustri kreatif di Indonesia membutuhkan kunci yaitu ide, semakin ide-ide ada dan berkembang maka ide tersebut dapat menggerakkan suatu karya yang akan tercipta. Pada intinya ide itu adalah kunci dan selamanya akan menjadi kunci apabila ide tersebut di follow up.”

 6. Roy Febrianto

     “Apa yang melatarbelakangi Bapak menjadi seoarang penemu teknik seni rupa WPAP ?”

      Wedha Abdul Rasyid

      Jawab :

      “Ok, latar belakangnya WPAP ini dimulai ketika saya merasa bosen menggambar satu jenis yang gitu-gitu aja apalagi realis yah… padahal waktu itu saya sudah mencoba meragamkan gaya ilustrasi saya tapi tetap aja bosen. Trus saya mencoba menemukan gaya baru itu gak ujung-ujung ketemu kayak sekarang tapi melalui proses. Yah… cukup panjang dan itu aja juga meringankan kerja saya, karena saya jadi tidak harus membuat warna yang betul-betul kayak kulit manusia, gak bikin struk yang halus lekukan-lekukannya itu udah susah buat saya pada waktu itu yang mendekati umur empat dimana mata saya sudah mulai gak bener gitu… rasanya gitu…”

 7. Roy Febrianto

    “Berapa lama proses yang dibutuhkan oleh Bapak untuk menciptakan sebuah mahakarya WPAP ini ?

     Wedha Abdul Rasyid

     Jawab :

       “Aa… ngitungnya agak susah ya berapa lama proses WPAP itu dibikin, maksudnya proses penemuannya, karena itu melalui proses-proses awal melalui embrio-embrio yang saya tiap-tiap tahap itu saya pikir ulang, kemudian dirubah lagi, pikir ulang lagi, rubah lagi sampai akhirnya ketemu yang kayak gini. Tapi kalo dihitung juga ya kira-kira ya lima atau tujuh tahunan lah gitu. Prosesnya itu, kalo sekarang udah kayak gini, bikinnya sih ya cepetlah hitungan jam. Kalo bikinnya untuk sekarang itu hitungan jam. Tapi proses sampai menuju kesitu itu lama banget.”

 8. Roy Febrianto

     “Melihat setiap karya Bapak yang melukis beberapa tokoh ternama di dunia maupun di Indonesia, apakah Bapak terinspirasi oleh tokoh-tokoh tersebut ?”

      Wedha Abdul Rasyid

      Jawab :

     “Tokoh-tokoh terkenal itu tidak menginspirasi saya, tapi justru mereka saya gunakan. Jadi saya angkat figur-figur mereka yang udah terkenal itu, sesuai dengan tata Pop Art. Pop art itu mengambil hal-hal atau benda-benda atau orang-orang yang sudah dikenal masyarakat luas kemudian kita angkat lagi dengan menu rasa yang berbeda. Jadi itu mereka saya manfaatkan, bukan menginspirasi.”

 9. Roy Febrianto

     “Dari berbagai macam warna yang ditorehkan di karya seni rupa Bapak, apakah memiliki arti dari setiap warna tersebut ?”

      Wedha Abdul Rasyid

      Jawab :

      “Warna seperti kita tahu memang mempunyai karakter bawaan. Merah katanya berani, macho, sangar, keras. Warna pink mungkin lembut lagi karakternya. Warna hijau itu katanyaseger gitu. Warna biru katanya bermartabat gitu yah. Kadang-kadang sifat atau karakter warna saya gunakan untuk menguatkan pesan yang saya usung dalam gambar itu, dalam karya itu. tapi seringnya sih hanya sebagai sarana untuk mencapai keindahan, biasanya warna itu saya gunakan untuk mewujudkan ekspresi keindahan. Ok…”

 10. Roy Febrianto

       “Seperti yang saya sudah lihat karya Bapak kebanyakan mengenai lukisan wajah, apakah Bapak ada keinginan untuk menciptakan inovasi baru selain melukis wajah manusia ?”

        Wedha Abdul Rasyid

       Jawab :

         “Lukisan yang saya buat terutama mengangkat wajah karena saya pikir dari wajah itulah kita bisa mendapatkan jutaan kata atau makna tidak seperti gambar yang katanya bisa bermakna hanya seribu kata, tapi dalam satu wajah bisa bermakna lebih dari itu. dari keseluruhan tubuh manusia. Wajahlah yang paling mewakili diri kita. Dari semua lukisan yang kita lihat misalnya pemandangan yang kita lihat ada pohon, ada rumah, ada gunung, ada rumput, kalo ada manusianya satu, manusia itulah yang paling kita fokuskan. Cuma dari keseluruhan manusia, wajahlah yang paling mewakili. Jadi saya tentukan wajah aja. Walaupun ada anomalinya, misalnya ada gerakan-gerakan moon walk, terutama misalnya gerakan moon walk-nya Michael Jackson, terus gerakannya Marilyn Monroe ketika roknya tertiup angin dari bawah. Adegan itu terkenal sekali, fenomenal sekali jadi kalo ada orang bikin WPAP dengan gerakan utuh, gerakan itu ya boleh-boleh aja tidak harus hanya wajah tok. Tapi gerakan itu harus yang sudah terkenal banget, yang fenomenal banget untuk dunia. Gak cuma gitar gayanya hampir semuanya, orang mencangkul, gak khas banget, dan belum tentu terkenal seluruh dunia gitu loh.. ok.”

           

Untuk mengetahui siapakah pak Wedha Abdul Rasyid dan karya-karya-nya silahkan teman-teman sekalian kunjungi link di bawah ini :

http://wpapcommunity.com/wpap/index.php?option=com_content&view=article&id=1&Itemid=35#ixzz1KeGbJiUN

Atau lebih lengkapnya lagi silahkan teman-teman lihat CV Biografinya di data matrix ibu Siti Nur Aisyiyah

Advertisements

Analisis perbandingan overtaking motogp di massa era 500cc-hingga sampai saat ini :

Valentino Rossi membuat perbandingan ketika dia masih berkompetisi di kelas 500cc dengan MotoGP saat ini. Menurut “The Doctor”, sekarang sangat sulit untuk menyalip pebalap lain. Rossi termasuk satu dari hanya dua pebalap yang masih aktif, setelah merasakan kompetisi MotoGP mulai dari 500cc, 990cc dan 800cc. Tak heran jika peraih tujuh gelar juara dunia kelas premier tersebut punya banyak pengalaman, termasuk aksi overtaking.

“Sekarang, dengan motor ini (800cc), tetapi khususnya ban Bridgestone dan sistem elektronik, lebih sulit untuk menyalip, jika kita membandingkannya dengan 500cc dan juga pada tahun-tahun pertama 990cc,” ujar pebalap Ducati tersebut.

“Karena waktu antara pengereman dan masuk tikungan jauh lebih kecil, sehingga waktu untuk melakukan aksi salip menjadi kurang.”

“Dulu, terutama dengan motor 500cc, dari tempat anda mengerem untuk masuk (tikungan) lebih panjang. Anda memiliki sekitar 30-40 meter untuk menyalip. Anda juga memasuki tikungan dengan sedikit lebih lambat. Jadi, semuanya terjadi lebih lambat, sehingga anda punya lebih banyak waktu dan lebih mudah untuk menyalip.”

“Sekarang, dari tahun ke tahun–800cc, Bridgestone dan juga semua sistem untuk anti-wheelie dan kontrol traksi–bagi saya, membuat aksi overtaking bisa melampaui batas. Risiko untuk membuat beberapa kesalahan dan juga menyenggol pebalap lain mungkin menjadi lebih banyak.”

“Jika satu pebalap ada di belakang dan ingin menyalip, 10 tahun lalu itu lebih mudah dilakukan. Selama satu lap, anda bisa melakukan aksi itu (salip) empat atau lima tempat. Sekarang mungkin hanya satu, atau maksimum dua.”

MotoGP akan memasuki era baru pada tahun 2012, ketika ada perubahan mesin ke 1.000cc.

Sumber Referensi : kompas

Analysis content video :

Video ini adalah aksi overtaking yang dilakukan Rossi di berbagai sirkuit. dalam aksinya Rossi mampu melibas ditikungan dengan sedikit pengereman. itulah ciri khas dari sang legenda hidup Valentino Rossi. ia dikenal sebagai raja di tikungan karena kemampuannya yang luar biasa yang tidak ada di pembalap manapun. 

Analisa dari pergerakan kamera :

1. Panning  : Gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

2. Tilting : Gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.

3. Dolly, Track : Gerakan kamera mendekati atau menjauhi  objek.

4. Pan ( Right, Left ) : Pergerakan kamera kekiri dan kekanan sesuai poros.

5. Tilt Up / Down : Pergerakan kamera naik dan turun sesuai poros.

6. Track In / Out : Pergerakan kamera lurus kedepan / kebelakang.

7. Zoom In / Out : Pergerakan lensa menjauh / mendekati obyek.

8. Follow Shot : Pergerakan kamera mengikuti obyek.

9. Crab Right / Left : Pergerakan kamera geser kekanan / kekiri.

10. Swing Right / Left : Pergerakan kamera lengkung kekanan / kekiri.

11. Ring Shot : Pergerakan kamera memutari obyek.

12. Subjektive Shot : Pergerakan kamera mewakili / menjadi mata obyek.

13. Travelling Shot : Pergerakan kamera berjalan / menyapu semua obyek.

14. Crane : Gerakan kamera meninggi atau merendah.

15. Following adalah gerakan kamera mengikuti objek  atau actor.

 

Anlysis onboard camera motogp (English vertion) :

Being able to witness Valentino Rossi´s movements from the tail of his bike has been a trademark of the MotoGP International Broadcast in recent years, with the iconic image of “The Doctor” lettering on the back of his leathers and his usual greeting to his own personal camera marking the beginning of many sessions since the introduction of a special OnBoard camera aimed at the back of the rider.

OnBoard cameras got close and personal with Rossi back in 2003 when the Italian was riding for Honda: the new OnBoard camera was launched at the Spanish Grand Prix in Jerez, giving, for the first time, a view of the back of the rider, thanks to a miniaturised camera placed on the tail end of his bike. This innovative view became a fixed feature in the MotoGP broadcast, alongside the Front and Rear OnBoard cameras.

The unique and spectacular perspective given by this OnBoard camera is a fixed angle following the movements of the bike on the asphalt. This weekend, a major step will be given with the introduction of the Gyroscopic OnBoard camera, in order to go beyond the limits of a fixed angle and give a perspective much closer to what the rider actually sees, with a fixed horizon line and the bike moving around a reference point, the rider.

The new Gyroscopic OnBoard Camera was developed by Dorna Sports SL, marking the start of a new generation of OnBoard cameras, including miniaturised motors. For years, Dorna Sports’ Technical and R&D department have been looking for a compact electronic module aimed at tracking the exact position of the bike on a race course and determining its lean angle in real time.

It was not until November 2009 and the Valencian Grand Prix that the ideal solution was found, as UAV Navigation offered their services. The Spanish company, specialised in Flight Control Systems, made the most of the experience they acquired in the Red Bull Air Race in order to bring a package adapted to the constraints of MotoGP, with two accelerometers, a triaxial gyroscope, a GPS and a micro-chip providing real-time data on the location of the bike and also the exact coordinates of the three gyro sensors, thus giving a better indication of the bike behaviour on track.

This data stream is processed in real-time to control a miniaturised motor placed in the Gyroscopic OnBoard camera, which rotates its lens according to the movements of bike – the movements of the lens actually compensating the movements of the bike in order to maintain a fixed horizon line, as the riders see it – so that the resulting footage is not a shot moving with the bike, instead the bike is moving around a reference point, giving a better perception of the riders’ dexterity in throwing their +210 hp prototypes through hair-raising-fast corners and audacious moves.

After an extensive testing process, the Gyroscopic OnBoard Camera is being used in the Live MotoGP International Broadcast this weekend for the first time at the eni Motorrad Grand Prix Deutschland, improving the sport’s experience offered to fans around the World with never-seen-before footage. This new feature will be developed and fine-tuned by Dorna Sports throughout the season in order to give a better perception of the lean angle concept, which is one of the most spectacular elements of MotoGP racing – giving a first-hand view of how the riders always push forward the limits of their bikes and endure ever higher g-forces in the pursuit of better lap times.

Sumber Referensi : http://www.motogp.com/en/news/2010/New+Gyroscopic+OnBoard+Camera+at+Sachsenring

Analisis jalannya race berlangsung di sirkuit Assen, 2007 :

Menyaksikan talenta seorang Valentino Rossi. Pembalap Italia itu seolah memiliki dunia sendiri dalam dunia balap MotoGP selama 10 tahun terakhir. Sejak memulai debut di kelas 125cc di GP Malaysia 1996 ,hingga merengkuh gelar juara dunia kesembilan dari seluruh kelas juga di GP Malaysia. Rossi merupakan salah satu pembalap terbesar sepanjang sejarah.

Finish di posisi tiga GP Malaysia akhir pekan lalu, sudah cukup untuk mengantarkannya mengamankan mahkota juara dunia musim 2009. Di usianya yang tidak lagi muda 32 tahun, Rossi masih mampu membuktikan kapasitasnya sebagai raja di lintasan.

Nah, untuk merayakan gelar kesembilan The Doctor, mari menengok sekilas Sembilan Momen Terbaik yang pernah dialaminya sepanjang 13 tahun berkarir di dunia balap :

9. Phakisa, 2004
Inilah balapan pertama Valentino Rossi bersama pabrikan Yamaha setelah mengakhiri kerjasama dengan Honda, akhir musim 2003. Di tengah keraguan atas kinerja YZR-M1, Rossi berhasil membuktikan bahwa bakat berbicara lebih kencang dari faktor teknis dengan menempati podium pertama.

8. Assen, 2009
Valentino Rossi membukukan kemenangan ke-100 sepanjang karirnya. Selebrasi menghibur sekaligus mengharukan dilakukan Rossi dengan membentangkan spanduk raksasa berisi foto-foto kemenangan pertama hingga terakhir.

7. Jerez, 2005
Seperti halnya Max Biaggi, pembalap Spanyol Sete Gibernau adalah musuh bebuyutan Rossi. Pada race pembuka musim 2005 di Jerez, Rossi dan Gibernau bertarung hingga detik-detik terakhir. Gibernau yang menguntit di posisi kedua sempat ngotot menyalip Rossi di tikungan terakhir. Namun, Rossi berhasil mempertahankan posisi dan memaksa Gibernau keluar lintasan.

6. Sepang, 2009
Tidak lengkap rasanya jika tidak menyebut balapan yang membuat Rossi merengkuh gelar kesembilannya. Memulai balapan dari pole position, Rossi harus merosot ke posisi sembilan akibat terlalu melebar di tikungan pertama. Meski harus melakoni wet race, The Doctor berhasil memperbaiki posisi hingga akhirnya finish di podium ketiga.

5. Suzuka, 2001
Inilah puncak perseteruan Rossi dan kompatriot Max Biaggi. Pada seri pembuka di musim terakhir kelas 500cc, Rossi dan Biaggi ngotot menjadi yang terdepan. Biaggi bahkan sempat tertangkap kamera menyikut Rossi saat keduanya tengah melaju 220km/jam. Dua lap kemudian, Rossi melewati Mad Max untuk finish di podium pertama sambil mengacungkan jari tengahnya.

4. Laguna Seca, 2008
The Doctor berupaya keras merobek dominasi Juara Dunia 2007 Casey Stoner. Apalagi, sirkuit Laguna Seca kurang bersahabat dengan Rossi dalam tiga musim sebelumnya. Rossi dan Stoner bertarung sendiri jauh meninggalkan pembalap-pembalap lainnya. Di sini, Rossi kembali menunjukkan aksi agresif dan berani sehingga akhirnya meruntuhkan mental Stoner yang terjatuh

3. Catalunya, 2009
Ini merupakan persaingan antara si Legenda alias Rossi dengan calon Legenda yang juga rekan setimnya Jorge Lorenzo. Sebuah balapan yang memacu adrenalin dengan aksi overtaking brilian dan nekat dari keduanya. Kemenangan Rossi pun baru bisa dipastikan pada tikungan terakhir dan hanya meraih margin 0.095 detik atas Lorenzo.

2. Assen, 2007
Rossi adalah rajanya overtaking. Cukup menyaksikan GP Belanda di Assen 2007 untuk membuktikannya. Memulai balapan dari posisi 11, secara perlahan tapi pasti Rossi berhasil melibas pembalap-pembalap di depannya dan merebut posisi pertama dari Casey Stoner.

1. Phillip Island, 2003
Seri ini menggambarkan talenta sesungguhnya dari Rossi. Terkena sanksi penalti 10 detik karena menyalip Marco Melandri saat bendera kuning dikibarkan bukan masalah baginya. Terbukti, Rossi akhirnya merebut podium pertama dengan margin 15,2 detik.

Sumber Referensi : http://suar.okezone.com/read/2009/10/26/136/269130/136/index.html

Analisa jalannya race berlangsung di sirkuit Motegi, Japan 2010 :

Di hadapan puluhan ribu penonton pendukung Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi, Stoner menunjukkan keperkasaan Ducati Desmocedisi GP 10. Begitu masuk tikungan kedua, ia langsung dapat menggeser Andrea Dovizioso dan tak terkejar hinga finish.

Sementara Dovizioso harus puas finish kedua. Pebalap Italia ini tak dapat mengembang tugas rekan setimnya Dani Pedrosa yang gagal tampil akibat mengalami kecelakaan saat latihan resmi. Meski dapat memperpendek jarak, namun ditinggal Stoner kembali.

Di luar dugaan penampilan Valentino Rossi. Start dari urutan kedua, dirinya sempat disalip rekan setimnya Lorenzo. Tapi, masuk lap 5 dirinya dapat menggeser pemimpin klasemen sementara itu. Bahkan  salip menyalip terjadi 3 lap terakhir dan keduanya hampir bersenggolan.

Tampaknya, The Doctor ingin menunjukkan kepada pendukungnya kalau dirinya sudah bisa fight meski belum dalam 100 persen.

Pada lap terakhir, Lorenzo coba menyalip Rossi tapi dapat dibalas lagi di tikungan berikutnya. Akhirnya, adegan yang mendebarkan dan berbahaya itu dimenangkan oleh Rossi.

Bagi Lorenzo, walau finish keempat, dengan mendapat tambahan 13 angka semakin memperkokoh kedudukannya di puncak klasemen dengan total 297 angka. Bahkan, pebalap asal Spanyol ini sudah bisa dipastikan menyandang gelar juara dunia.

Karena, rival utamanya Dani Pedrosa yang mengantongi 228 angka, tertinggal 69 angka. Katakanlah, kalau pebalap Honda itu akan tampil lagi di seri berikutnya di Malaysia, tentu tidak dalam kondisi fit.

Sementara, kabar dari kubu Honda maupu dokter yang mengoperasikannya mengatakan kalau Pedrosa ada kemungkinan absen dalam dua seri ke depan. Berarti, Lorenzo sudah pasti juara dunia.

Hasil lomba :

1.Casey STONER             AUS     Ducati Team                    43’12.266
2.A.DOVIZIOSO               ITA      Repsol Honda Team       +3.868
3.V.ROSSI                        ITA       Fiat Yamaha Team         +5.707
4.J.LORENZO                  SPA      Fiat Yamaha Team          +6.221
5.C.EDWARDS                USA      Monster Yamaha Tech 3 +27.092
6.M.SIMONCELLI            ITA      San Carlo Honda Gresini +30.021
7.A.BAUTISTA                SPA      Rizla Suzuki MotoGP       +31.826
8.Ben SPIES                      USA     Monster Yamaha Tech 3   +35.572
9.R.DE PUNIET                FRA     LCR Honda MotoGP        +47.564
10.H.AOYAMA                JPN      Interwetten Honda MotoGP+49.598
11.M.MELANDRI             ITA      San Carlo Honda Gresini +49.999
12.N.HAYDEN                 USA     Ducati Team Ducati          +50.703
13.H.BARBERA               SPA     Paginas Amarillas Aspar +51.422
14.A.ESPARGARO          SPA     Pramac Racing Team          +52.843
15.M.KALLIO                   FIN      Pramac Racing Team          +1’14.668

Sumber Referensi : http://www.blogwarta.com/sport/stoner-juara-rossi-libas-lorenzo-di-sirkuit-motegi-jepang/

Analisa dari GERAKAN KAMERA :

1. Panning
    Panning adalah gerakan kamera secara horizontal (posisi kamera tetap di tempat) dari kiri ke kanan atau sebaliknya.

2. Tilting
     Tilting adalah gerakan kamera secara vertikal (posisi kamera tetap di tempat) dari atas ke bawah atau sebaliknya.

3. Dolly, Track : gerakan kamera mendekati atau menjauhi  objek.

4. Pan ( Right, Left )
     Pergerakan kamera kekiri dan kekanan sesuai poros.

5. Tilt Up / Down
     Pergerakan kamera naik dan turun sesuai poros.

6. Track In / Out
     Pergerakan kamera lurus kedepan / kebelakang.

7. Zoom In / Out
     Pergerakan lensa menjauh / mendekati obyek.

8. Follow Shot
     Pergerakan kamera mengikuti obyek.

9. Crab Right / Left
     Pergerakan kamera geser kekanan / kekiri.

Analisis hasil race berlangsung :

1. Jorge Lorenzo (Spain) Yamaha            47 mins 13.592 secs
2. Alex de Angelis (San Marino) Honda 47:23.027
3. Nicky Hayden (U.S.) Ducati                   47:26.539
4. Andrea Dovizioso (Italy) Honda         47:27.070
5. Colin Edwards (U.S.) Yamaha               47:39.846
6. James Toseland (Britain) Yamaha      47:46.000
7. Loris Capirossi (Italy) Suzuki                47:47.992
8. Mika Kallio (Finland) Ducati                  47:48.448
9. Toni Elias (Spain) Honda                         47:58.597
10. Dani Pedrosa (Spain) Honda                47:58.969
11. Chris Vermeulen (Australia) Suzuki 47:59.070
12. Randy de Puniet (France) Honda      48:05.886
13. Aleix Espargaro (Spain) Ducati          48:17.144
14. Gabor Talmacsi (Hungary) Honda     48:28.678

Sumber Referensi : Koran harian KOMPAS & Television Production Handbook, Eighth Edition, Herbert Zettl, San Fransisco State University

Analisis Ajang persaingan Rossi vs Gibernau :

Valentino Rossi hadir di Jerman dengan satu tujuan, yakni untuk memenangkan lomba seri kedelapan lomba motor grand prix di Sirkuit Sachsenring sekaligus memperoleh keberuntungan psikologis untuk melanjutkan supremasinya di motor grand prix dunia.

Pembalap Italia dari tim Gauloises Fortuna Yamaha tersebut, memang masih bersaing ketat dengan Sete Gibernau (Spanyol) dari tim Telefonica Movistar Honda. Dan kedua pembalap di seri sebelumnya, mengalami kecelakaan, sehingga sama-sama tidak mendapat poin tambahan.  Perolehan nilai sama itulah yang membuat Rossi dan Gibernau perlu suntikan semangat. Akan tetapi, siapa di antara kedua pesaing ini mampu mendapatkan suntikan moral tersebut di Jerman?

“Saya sedikitpun tidak ragu, ketika kami sama-sama tampil segar memulai lomba pada akhir pekan ini. Dengan rasa percaya diri, kami sudah menikmati beberapa lomba pada tahun ini,” ungkap Rossi yang pernah menjadi juara di Sachsenring, ketika masih berlaga di kelas 125 cc.

Menurut pembalap dengan berbagai julukan itu, mereka kini sudah berada diparuh lomba, dan sebelum menyelesaikan lomba, hal apapun bisa terjadi. Namun sebagai pembalap, mereka tentu saja harus menyelesaikan tugas.

“Saya sebenarnya tidak terlalu menyukai Sirkluit Sachsenring. Namun motor Yamaha secara umum selalu berhasil menyelesaikan lomba di sirkuit ini. Oleh karena itu saya berharap bisa bersaing secara kompetitif. Sirkuit ini sangat memungkinkan melakukan manuver oleh setiap lawan, dan juga terlalu datar untuk motor bertenaga besar.”

Analisis dari segi persaingan Rossi dengan Gibernau :

Pertama

Seperti pengakuan Rossi bahwa ini adalah lomba pertamanya di Sachsenring dengan mengandalkan motor Yamaha M1, maka kemungkinan mengalahkan Rossi sangat terbuka. Tetapi, harus diakui, motor apapun yang dikendarai Rossi, sepertinya kekuatannya tidak akan berkurang.

Di luar garis persaingan para pembalap, yang pasti panitia tentu saja mengharapkan agar Sirkuit Sachsenring dipadati pengunjung. Informasi dari panitia melaporkan, pada tahun lalu jumlah penonton mencapai 204.000 pasang mata.

Untuk tiket tribun saja, saat ini sudah terjual habis, sehingga ada kemungkinan untuk menambah jatah atas permintaan penonton. “Permintaan tiket tidak henti-hentinya, sehingga kami optimistis bisa terjadi pemecahan rekor,” papar manajer lomba, Lutz Oeser kepada situs Motograndorix.com.

Peningkatan itu memungkinkan terjadi, juga tidak terlepas dari local hero, atas nama Alex Hofmann yang akan berlaga membawa nama Kawasaki Raing Team. Hofmann adalah satu-satunya kebanggaan masyarakat Jerman di ajang motor grand prix.

Beban yang diemban Hofmann tentu saja sangat berat, karena harus bisa memberi kepuasan di samping memberi kepercayaan kepada timnya. Hofmann kini baru menoleksi 18 poin, namun memiliki harapan besar ketika berlaga di negerinya sendiri.

Hofmann, 24, boleh saja berharap banyak, karena pada empat seri terakhir, ternyata mampu meraih poin meski tidak naik podium. Dia berupaya menikmati atmosfir Sirkuit Sachsenring yang dinilai sangat unik.

“Secara umum Sachsenring adalah lomba terbesar bagi saya. Dan menghadapi lomba, kami sudah melakukan persiapan besar. Karakter sirkuit sangat cocok bagi motor kami, jadi saya berharap bisa mendapatkan hasil yang terbaik di sini,” tukas Hofmann.

Setiap pembalap bisa saja mengumbar target, namun kenyataannya persaingan paling ketat akan terjadi pada posisi sebelas besar. Mereka ini adalah pebalap yang sudah mengoleksi angka kemenangan di atas 40 poin. Diluar dari persaingan itu, angka yang akan terakumulasi terjadi dengan bilangan kecil. Kesebelas pembalap tersebut adalah Valentino Rossi, Max Biaggi, Marco Melandri, Loris Capirossi (Italia). Sete Gibernau, Carlos Checa, Alex Barros (Spanyol). Colin Edwards, Nilcy Hayden (AS). Makoto Tamada dan Norick Abe (Jepang). (mgm)

 

Sumber Referensi : http://cybermed.cbn.net.id/cbprtl/cybernews/detail.aspx?x=Sports&y=cybernews|0|0|12|1415